Mental Health . Menjadi Manusia

 

Menjadi Manusia

 

Tuhan menciptakan kita dengan sebaik-baiknya, Tuhan juga yang mengizinkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, entah itu baik atau buruk. Segala hal yang sudah Tuhan berikan, patutlah kita untuk menjaganya, termasuk kesehatan kita sendiri. Baik itu kesehatan mental ataupun jasmani kita, semuanya harus seimbang dan berjalan dengan baik. Mungkin kesehatan jasmani sudah biasa dalam masyarakat dan terlihat lebih diperhatikan oleh masyarakat. Namun, kesehatan mental nyatanya sangat penting untuk tidak diabaikan. Banyak pendapat para ahli tentang kesehatan mental ini ada yang mengatakan kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa dan dari gejala-gejala penyakit jiwa. Pendapat lainnya, kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antar fungsi fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupa untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.

Lalu apa saja sih yang menjadi indicator mental yang sehat? Yang pertama adalah bebas dari gangguan dan penyakit kejiwaan, mampu menciptakan hubungan yang baik dan menyenangkan, mengembangkan potensi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Kesehatan mental yang sangat mengganggu dapat dikategorikan sebagai gangguan mental. Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berhubungan dengan orang lain, membuat pilihan, dan memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri. Menurut riset yang dilakukan WHO, pada tahun 2020 kasus gangguan mental pada orang dewasa meningkat sebanyak 15% yang sebelumnya masih berkisar 12% pada tahun 2000.  Namun, nyatanya gangguan mental dapat diderita oleh semua kalangan, dari anak-anak, remaja, ibu hamil, lansia dan sebagaiya. Untuk di Indonesia, data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa gangguan mental emosional di Indonesia dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk. Sedangkan jumlah gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Gejala awal terganggunya kesehatan mental ini memang terlihat ambigu, namun jika seseorang itu melakukannya terus-menerus ini patut diwaspadai. Jika seseorang mengalami perubahan kepribadian yang drastic, merasa cemas atau perubahan suasana hati yang tidak biasa, mengisolasi diri, tidak lagi memperhatikan kesehatan dan kebersihan dirinya dan yang terakhir putus asa akan hidup, merasa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Ini adalah kondisi para penderita gangguan mental yang memerlukan bantuan secepatnya.  Faktor penyebab dari terganggunya kesehatan mental kita juga bisa darimana saja. Dari lingkungan keluarga, sejolah, kampus, pekerjaan dan masyarakat. Terlebih lagi zaman milenial sekarang, sebagai Generasi Z semua bisa dijangkau. Keterbukaan yang tidak terbatas kini dapat juga menjadi faktor pemicu terjadinya gangguan mental. Keinginan atau rasa obsesif orang untuk mencari perhatian dan mau diakui orang banyak lewat media sosial juga harus dikendalikan. 

    Hal yang bisa dilakukan ketika sudha mengalami gangguan mental adalah terapi perilaku kognitif, jenis psikoterapi yang bertujuan mengubah pola pikir dan respons pasien, dari negatif menjadi positif. Terapi ini menjadi pilihan utama untuk mengatasi gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, dan gangguan tidur.Pada banyak kasus, dokter akan mengombinasikan terapi perilaku kognitif dan obat-obatan, agar pengobatan menjadi lebih efektif. Seperti antidepresan (fluoxetine), Antipsikotik (aripiprazole), pereda cemas (alprazolam), penstabil mood (lithium). Tentu kita dapat mencegah kondisi gangguan mental ini terjadi, dengan secara sungguh memperhatikan gaya hidup kita seperti jam tidur, pola makan, kurangi asupan gula berlebih, tidak merokok atau memakai obat terlarang dan yang lebih penting untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena hanya Tuhan saja lah yang bisa menolong kita di setiap langkah hidup kita.

 

Comments