Motivation Letter. Di Antara Milyaran Manusia
DI ANTARA MILYARAN MANUSIA
Di antara milyaran manusia di dunia, jutaan manusia di suatu negara dan ratusan manusia di suatu pulau. Semuanya berbeda-beda, hidup dan berjalan dengan caranya sendiri. Di sini juga terbentuk satu pribadi spesial yaitu kamu dan saya sendiri. Ketika Tuhan menciptakan kita, saya sebenarnya tahu bahwa saya dilahirkan tanpa unsur sia-sia. Tentu, ada masa dimana saya merasa bahwa saya tidak berguna dan tidak ada yang bisa saya lakukan sekarang atau pada masa ke depannya. Apalagi saat masa pandemik seperti ini, terkurung dalam rumah nyatanya tidak baik kalau dilakukan secara berlebihan. Apa tuh dampaknya? Yes!!Overthinking. Terkadang saya jadi memikirkan, mau jadi apa saya selanjutnya, gaya hidup seperti apa yang akan saya lakukan di sepanjang hidupmu? Seperti apakah penampilan saya 30 tahun mendatang? Apakah ada orang yang mau sama saya? Dan masih banyak lagi.
Well, tidak salah kalau mau memikirkan rencana ke depannya. Asalkan, jangan menjadi minder alias rendah diri. Minder adalah suatu perasaan yang merasa dirinya tidak akan lebih tinggi dari orang yang pandai dalam suatu hal. Kondisi yang paling nyata dan yang paling dekat dengan saya adalah iri melihat teman – teman yang lebih menarik, berprestasi, dan hal lainnya. Saya tahu kalau itu salah untuk membanding-bandingkan diri kita. Namun sayangnya, ini tetap berlanjut dan bahkan sudah menjadi kebiasaan di sekitaran kita. Akan tetapi, kita tidak bisa mengubah kebiasaan yang dilakukan orang lain, bukan? Satu-satunya cara adalah dimulai dari diri sendiri.
Tidak ada seorang pun yang paling bisa mengenal dirimu sendiri lebih baik daripada kamu sendiri. Selama 18 tahun, saya ternyata masih tergolong baru dalam mengenal pribadi saya. Pada masa pandemik ini saya bersyukur saya dapat mengenal diri saya lebih dalam lagi. Untuk kamu yang masih merasa belum mengenal diri kamu lebih baik, tidak apa-apa, belum terlambat. Terkadang, kamu harus menilai orang lain dan membanding-bandingkan diri kamu dengan yang lain untuk mendapatkan kelebihan dan kekuranganmu. Minimal untuk intropeksi diri saja, telaah lagi apa yang sudah kamu punya dan bagaimana cara mengembangkan potensi dari sana. Sesudah kita mengetahuinya, kelebihan yang kita miliki harus kamu pertahankan dan tingkatkan. Sedangkan, kekurangan yang masih kamu miliki sebaiknya kamu tulis dan renungkan apa tindakan kamu selanjutnya untuk mengatasi ini. Harus diatasi lho.. Walaupun tidak mudah, namun ala bisa karena biasa.
Langkah selanjutnya adalah menerimanya. Meskipun tidak terhitung berapa kali kamu mengganti tampilan luar kamu, di dalam hatimu, kamu sendiri tahu bahwa saya tidak akan dapat berubah hanya dari tampilan luarnya saja. Mau tidak mau, kita harus menerimanya terlebih dahulu. Kalau bukan kamu, siapa lagi. Proses penerimaan yang saya rasakan tentu tidak semudah menghidupkan saklar lampu atau memelas minta uang sama mama. Memang sulit di awalnya, berusaha menghilangkan rasa insecure dan keluar tanpa mendengar omongan orang lain. Tapi percayalah, semua hanya di awal saja. Kalau mereka masih belum capai dan masih mengkritik kamu, ya sudahlah.. biarlah Tuhan yang membalas, kita yang tahu akhlak, cukup mendoakan saja.
Proses penerimaan diri yang berbeda jangka waktunya bagi tiap orang itu wajar. Jangan terlalu cepat ambil pusing jikalau kamu belum bisa menemukan apa yang spesial dari diri kamu. Di dalam proses penerimaan ini, kamu secara tidak sadar belajar untuk mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri menurut saya bukanlah mengembangkan sikap obsesif dan percaya diri yang berlebihan dengan diri kamu. Tapi lebih tepatnya berani mengekspresikan diri kamu dan bisa memilih mana yang terbaik untuk kamu. Misalnya saya sendiri waktu itu tidak suka dengan wajah saya yang penuh jerawat, saya tidak menyalahkannya karena ini di luar kendali saya. Hal yang bisa saya lakukan yah merawat diri dong pastinya. Jika pada awalnya saya menutup wajah saya ketika berkumpul dengan teman-teman, namun sekarang saya memilih utuk membukanya. Tentu, ada respon dari orang lain yang saya harap mereka tidak mengatkannya. “Wah, banyak sekali jerawatmu, kenapa bisa begitu, kamu jarang rawat diri ya?” yah begitulah salah satu contohnya. Tapi tidak apa-apa, jawab saja dengan candaan santai dan jangan lupa senyum. “Iya nih, lagi pada suka sama wajah saya sepertinya.” Jangan mau kalah dengan omongan orang lain.
Kalau kamu terus memikirkan omongan orang lain, hidupmu akan seperti daun berguguran yang mau dibawa kemana saja oleh angin yang bertiup. Apa yang bisa kamu kontrol, seperti mindset atau pikiran kamu, pergunakan dengan baik. Sebaliknya, hal yang tidak bisa kamu kontrol seperti komentar orang lain, tampilan fisik kamu. Jangan salahkan mereka, hiduplah berdampingan dengan mereka dengan tidak mengorbankan kebahagiaan kamu di atasnya. Bahagiamu, tanggung jawabmu sendiri. Fokuslah untuk menjadi orang yang kamu inginkan untuk selanjutnya, pelan-pelan saja.
Comments
Post a Comment